Selang berapa lama kemudian Tajul Muluk pulang ke negeri orang tuanya bersama Putri Meungkawali. Kande Lilan amat terharu menerima kedatangan putranya yang disangkanya sudah tidak ada lagi. Demikian pula Janu Hati dan Mahmuda. Beberapa waktu kemudian, perdana menteri negeri Syarikatan bernama Bahrum mempersunting Putri Ruhul Afda menjadi istrinya.

Raja Budiu Indra dari negeri Beureuma Sakti pada suatu ketika dapat menaklukkan negeri Peulinggoe Pura, dan pada suatu kesempatan ia dapat menculik Putri Meungkawali. Karena mengetahui Tajul Muluk mengikuti Meungkawali, Raja Budiu amat murka. Tajul Muluk dilempar jauh-jauh dan Meungkawali disihir menjadi patung setengah batu dan setengah manusia.

Di negeri Kasab, Tajul Muluk berkenalan dengan Putri Lidan Bumi yang kemudian menjadi istrinya, dan diangkat pula sebagai raja negeri itu menggantikan Geunta Ali. Dalam mencari Meungkawali Tajul Muluk dibantu oleh Hantu Hitam. Di negeri Iram Dami, Tajul Muluk bertemu dengan Putri Cahya Mala. Putri itu jatuh cinta kepadanya dan sesudah mengalahkan Dewa Sakti, Tajul Muluk menikah dengannya serta diangkat pula menjadi raja Iram’Dami menggantikan Raja Beureuman Kayuti.

Dalam usaha mencari Meungkawali selanjutnya, Tajul Muluk bertemu dengan anak Raja Budiu Indra bernama Dhien Peuduka. Putri ini sangat mencintai Tajul Muluk yang menyebabkan ayahnya amat murka. Tajul Muluk dapat mengalahkan pasukan Budiu Indra dan Dhien Peuduka menjadi istrinya. Akhirnya dengan bantuan Beureuman Kayuti, Putri Meungkawali diketemukan dan berkat ilmu saktinya putri itu kembali lagi seperti sediakala. Dengan membawa empat orang putri yaitu Meungkawali, Dhien Peuduka, Cahya Mala, dan Lidam Bumi, tak lama kemudian Tajul Muluk sampai di Syarikatan. Di sana mereka disambut dengan meriah oleh keluarga istana termasuk Putri Janu Hati dan Mahmuda.

Semua putri menyembah Lilan Kande dan Baginda Raja Zainul Muluk. Keempat orang putri masing-masing Cahya Mala, Lidam Bumi, Janu Hati, dan Mahmuda kemudian dinikahkan oleh Tajul Muluk dengan keempat saudaranya. la hanya memiliki Meungkawali dan Dhien Peuduka. Tiada berapa lama kemudian Meungkawali melahirkan seorang putra dan diberi nama Syamsul Kamar.

Tersebutlah seorang raja dari negeri Cina bernama Mureh. Pada suatu malam ia bermimpi mendapat setangkai bunga. Menurut ahli nujum raja akan mendapat seorang putri bernama Meungkawali. Tetapi putri itu akan direbut kembali oleh suaminya yang sakti bernama Tajul Muluk. Dengan armadanya yang besar raja Cina berangkat menuju Syarikatan. Sampai di sana balatentara Cina mendapat perlawanan hebat dari Tajul Muluk. Pertempuran seru terjadi. Tajul Muluk dibantu oleh pasukan sakti Muzafasyah dan raja-raja lain.

Dalam peperangan itu adik raja Cina bernama Eumpieng Beusoe tewas. Dengan ilmu saktinya panglima perang Cina bernama Beureuman Dewi dapat menawan Tajul Muluk bersama Meungkawali. Mereka dibawa ke negeri Cina. Syamsul Kamar mengikuti ayahnya ke negeri Cina.ia bersama panglima-panglima perang lainnya. Pasukan Cina dibuat tidak berdaya. Raja Cina terbunuh dalam peperangan itu. Negerinya ditaklukkan dan Beureuman Kayuti menggantikannya sebagai raja.

Sesudah semuanya selesai barulah Tajul Muluk, bersama Meungkawali beserta sejumlah pengikutnya pulang ke Syarikatan. Di sana mereka hidup dalam keadaan damai. Tiada berapa lama kemudian Syamsul Kamar menggantikan ayahnya sebagai raja negeri Syarikatan.