Banyaknya  manusia  yang  lalai  dari  sholat  Subuh,  baik  dalam  pelaksaannya maupun  dalam  mempelajari  hukum-hukum  yang  berkaitan  dengannya,  telah menimbulkan  berbagai  dampak  negatif  dalam  kehidupan  masyarakat  muslim. Maka  berikut  ini  kami  ketengahkan  beberapa  fatwa  Syaikh  Muhammad  bin Shalih  Al-‘Utsaimin  -Salah  seorang  ulama  besar  Saudi  Arabia-  rahimahullâh berkaitan dengan shalat Subuh. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Soal 1 :

Apakah  lebih  baik memanjangkan  sholat  shubuh,  khususnya  (memanjangkan)  bacaannya ?

Jawab:

Ya,  termasuk  sunnah  dalan  sholat  shubuh  hendaknya  memanjangkan bacaannya. Dan hendaknya dari bacaan yang panjang diambil dari surat-surat Mufashshal  yaitu  dari  surah  Qaaf  sampai  Amma  (An-Naba`,-pent)  kemudian memanjangkan  bacaannya,  demikian  pula  memanjangkan  ruku’  dan  sujudnya lebih dari yang lainnya.

 

Soal 2 :

Seorang lelaki terkena junub beberapa menit sebelum sholat shubuh, apakah dia tayamum  atau  mandi  ?  Jika  mandi,  barangkali  dia  akan  kehilangan  sholat shubuh (berjama’ah, -pent), perlu diketahui bahwa sholat telah ditegakkan.

Jawab :

Wajib  baginya  untuk  mandi  sekalipun  kehilangan  sholat  berjama’ah,  karena mandi  dari  junub  termasuk  syarat  sahnya  sholat  menurut  kesepakatan  (para ulama).  Adapun  sholat  berjama’ah  wajib  dan  tidak  mungkin  bertentangan dengan syarat yang wajib.

 

Soal 3 :

Jika  sekelompok  orang  dalam  perjalanan  (safar),  kemudian  salah  satu  dari mereka terkena junub, apakah dia harus mandi atau tayamum, perlu diketahui bahwa waktunya pendek dan saat itu musim dingin yang sangat menusuk, apa yang mesti dilakukan ?

Jawab :

Jika  mengkhawatirkan  akan  dirinya  dari  bahaya  jika  harus  mandi,  atau  air hanya sedikit yang mereka butuhkan untuk minum dan masak, maka dia boleh tayamum.  Dan  jika  air  itu  banyak  atau  mungkin  bisa  menjaga  dingin  dengan menjerangnya dan mandi di tempat yang terjaga dari hawa dingin, maka wajib baginya untuk mandi.

 

Soal :

Banyak dari para imam yang terus menerus membaca beberapa surah yang di dalamnya ada ayat sajadah khususnya hari jum’at, apakah hal itu ada dasarnya atau tidak ?

Jawab :

Adapun  membaca  ayat-ayat  yang  di  dalamnya  ada  ayat  sajadah  maka  tidak mengapa untuk membacanya, berdasarkan firman Allah Ta’âlâ, “Karena  itu  bacalah  apa  yang  mudah  (bagimu)  dari  Al-Qur`ân.”  (QS.  Al-Muzzammil : 20)

Adapun membaca ayat sajadah pada hari jum’at, maka yang disyari’atkan adalah hendaknya seseorang membaca, Alif Laam Miim Tanzil yakni surah As-Sajadah pada raka’at pertama dan  Hal Atâ ‘Alal Insân (Yaitu surah Al-Insân,-pent.) pada raka’at  yang  kedua.  Bukanlah  yang  dimaksud  dengan  Alif  Laam  Miim  Tanzil adalah surah yang di dalamnya ada ayat sajadah tapi yang dimaksudkan adalah surah (As-Sajadah) itu sendiri. Jika mudah baginya untuk membaca (surah As-Sajadah)  pada  raka’at  pertama  dan   pada  Hal  Atâ  ‘Alal  Insân  raka’at  kedua, maka  inilah  yang  disyari’atkan.  Kalau  tidak,  maka  janganlah  menyengaja membaca surat yang di dalamnya ada ayat sajadah sebagai ganti dari surat As Sajadah.

 

Soal 5 :

Banyak  orang  yang  mereka  memiliki  kesiapan  yang  sempurna  untuk menunaikan  sholat  subuh,  kemudian  meletakkan  semua  sebab  namun  tidak juga menunaikan sholat, maka apa yang mesti kita nasehatkan terhadap orang-orang  seperti  mereka?  Apa  hukum  sholatnya  setelah  dia  bangun?  Apa  dia berdosa?

Jawab :

Wajib  baginya  untuk  mengerjakan  semua  sebab  yang  menjadikannya  dia mengikuti  sholat  shubuh  dengan  berjama’ah,  diantaranya  dengan  tidur  lebih awal, karena sebagian orang suka terlambat tidur dan mereka tidak tidur kecuali menjelang  shubuh  kemudian  tidak  mampu  untuk  bangun  sekalipun  sudah memasang  jam  weker  dan  menyuruh  orang  untuk  membangunkannya.  Oleh karena itu, kami menasehati dia dan orang yang seperti dia agar mereka tidur lebih  awal  sehingga  bisa  bangun  dengan  mudah  dan  mengikuti  sholat berjama’ah. Adapun apakah dia berdosa ? Ya, dia berdosa jika sebabnya adalah hal seperti ini,  baik  karena  keterlambatan  tidur  atau  karena  meninggalkan  kehati-hatian untuk bisa bangun maka dia berdosa.

 

Soal 6 :

Sekelompok  orang  dalam  rihlah  atau  safar,  kemudian  mereka  semua  tertidur dari  sholat  shubuh  dan  tidak  bangun  kecuali  setelah  matahari  terbit,  apakah mereka  mengqadha’  sholat  dengan  berjama’ah  atau  sendiri-sendiri  ?  Apakah imam  mengeraskan  bacaannya,  sementara  mereka  menunaikannya  pada  saat seperti ini ?

 

Jawab  :

Ya, jika ditaqdirkan mereka sekelompok orang dalam safar dan semua tertidur dan  tidak  bangun  kecuali  setelah  matahri  terbit,  maka  hendaknya  mereka berjalan  dulu  dari  tempat  mereka  berada,  kemudian  wajib  dikumandangkan adzan  dan  sholat  sunnah  rawatib  fajar  kemudian  iqamah  dan  mereka menunaikan  sholat  secara  berjama’ah  dan  imam  mengeraskan  bacaannya sebagaimana telah dikerjakan oleh Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa sallam.

 

Soal 7 :

Ada sebagian orang yang memberi perhatian khusus sholat shubuh berjama’ah hanya di bulan Ramadhan saja dan tidak mengerjakannya di bulan yang lain, apa nasehat anda kepada mereka ?

Jawab  :

Saya  nasehatkan  kepada  mereka  agar  bertaqwa  kepada  Allah  Ta’âlâ  dalam semua  waktunya  baik  di  bulan  Ramadhan  atau  di  bulan  yang  lainnya  karena manusia  diperintahkan  untuk  beribadah  kepada  Allah  Ta’âlâ  sampai  maut mendatanginya, Allah Ta’âlâ berfirman, “ Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al Hijr : 99)

 

Soal 8 :

Apa hukum orang yang luput baginya sholat shubuh secara berjama’ah karena membangunkan anak-anaknya ? Apa nasehat anda ?

Jawab :

Saya nasehatkan agar membangunkan anak-anaknya sebelum adzan sehingga bisa  menunaikan  sholat  berjama’ah,  tidak  halal  baginya  untuk  meninggalkan sholat  berjama’ah  lantaran  membangunkan  anak-anaknya.  Jalan  keluarnya adalah dengan membangunkan mereka lebih awal dalam tempo yang bisa untuk membangunkan  mereka  dan  mendapatkan  sholat  berjama’ah.  Adapun membiarkan mereka sampai terdengar adzan kemudian bangkit membangunkan mereka,  maka  terkadang  anaknya  banyak  dan  tidurnya  lelap  maka  ini  berarti sikap ceroboh darinya.

 

Soal 9 :

Apa hukum orang yang menunaikan semua sholat (dengan berjama’ah) kecuali sholat shubuh ?

Jawab :

Dia  berdosa  dengan  meninggalkan  sholat  shubuh  berjama’ah,  wajib  baginya untuk  bertaubat  kepada  Allah  Ta’âlâ  dan  menunaikan  sholat  shubuh  dengan berjama’ah. Maka dikhawatirkan dengan kumunafikan pada orang yang seperti itu keadaannya karena Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling berat terhadap orang-orang munafiqin adalah sholat Isya’ dan sholat Subuh, jika mereka mengetahui (keutamaan) apa yang ada pada keduanya (yakni  sholat  Isya’  dan  sholat  Subuh)  pasti  mereka  akan  mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Soal 10 :

Apakah imam masjid bertanggung jawab dengan sholat berjawab ? Apa nasehat anda kepadanya ?

Jawab :

Tidaklah  imam  masjid  bertanggung  jawab  dengan  jama’ahnya,  namun hendaknya  dia  mengingatkan  mereka  dengan  nasehat  dan  bimbingan.  Baik nasehat itu bersifat umum yang dia berbicara terhadap mereka di masjid atau secara  khusus  dimana  ketika  melihat  sesorang  menggampangkan  (sholat berjama’ah)  kemudian  dia  datangi  dan  menasehatinya,  maka  dia  bertanggung jawab  terhadap  mereka  dalam  hal  yang  berkaitan  dengan  sholat.  Artinya hendaknya dia mengerjakan dalam sholatnya dengan cara yang lebih sempurna, tidak  terburu-buru  yang  menghalangi  mereka  untuk  melakukan  hal-hal  yang disyari’atkan.

 

Soal 11 :

Apa hukum orang yang tertidur dari sholat Isya’ kemudian bangun untuk sholat shubuh  dan  menunaikannya,  namun  di  tengah-tengah  sholatnya  dia  ingat belum mengerjakan sholat Isya’, apakah dia menyempurnakan sholat subuhnya atau apa yang musti dikerjakan ?

Jawab :

Ya, dia menyempurnakan sholat shubuhnya kemudian sholat Isya’.

 

Soal 12 :

Apakah  cukup  dengan  adzan  pertama  untuk  mengerjakan  sholat  shubuh sebelum waktunya ?

Jawab :

Tidak cukup dengan adzan pertama untuk mengerjakan sholat shubuh, karena adzan untuk sholat itu tidak dikerjakan kecuali setelah masuk waktunya, karena Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika  sudah  tiba  waktu  sholat  maka  hendaknya  salah  seorang  dari  kalian mengumandangkan adzan dan  mengimami kalian yang paling banyak (hafalan) Al-Qur`annya.”

 

Soal 13 :

Apa hukum orang yang memasang jadwal waktu kerja resmi dan sholat shubuh dalam waktu tersebut, baik itu jam tujuh atau jam setengah tujuh, apakah dia berdosa, bagaimana hukum sholatnya ?

Jawab :

Dia  berdosa  dalam  perbuatannya  itu  tanpa  ada  keraguan  dan  dia  termasuk orang  yang  lebih  mementingkan  dunia  mengalahkan  akhiratnya.  Allah  Ta’âlâ telah mengingkarinya dalam firman-Nya,  “Tetapi kamu (orang-orang) kafir memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”  (QS. Al-A’lâ : 16-17)

Sholatnya  yang  seperti  ini  tidak  akan  diterima  dan  bisa  lepas  dari  tanggung jawabnya,  kelak  dia  akan  dihisab  karenanya  pada  hari  kiamat  maka  wajib baginya  untuk  bertaubat  kepada  Allah  Ta’âlâ  dan  hendaknya  sholat  bersama kaum muslimin kemudian tidur setelah itu sampai waktu kerja resminya.

 

Soal 14 :

Apa nasehat anda secara umum kepada semua laki-laki dan perempuan?

Jawab :

Saya nasehatkan kepada setiap muslim untuk menjaga sholat shubuhnya dan sholat-sholatnya  yang  lain  karena  sholat  merupakan  tiang  agama  yang merupakan  ibadah  yang  paling  pokok  setelah  mengucapkan  dua  kalimah syahadat. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah kafir dan barang siapa yang menyia-nyiakannya maka dia dalam bahaya. Allah Ta’âlâ berfirman, “Maka  datanglah  sesudah  mereka,  pengganti  (yang  jelek)  yang  menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka  itu  akan  masuk  surga  dantidak  dianiaya  (dirugikan)  sedikitpun.”   (QS. am : 59-60)

Maka jika mereka bertaubat dan beramal shalih, diharapkan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan janji dari Allah Ta’âlâ dengan firman-Nya, “Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam : 60)

 

Soal 15 :

Seorang  laki-laki  luput  baginya  sholat  subuh  berjama’ah  bersama  kaum muslimin,  apakah  dia  sholat  rawatib  atau  cukup  sholat  shubuh  saja  ?  Perlu diketahui bahwa jama’ah sudah keluar dari masjid.

Jawab :

Dia  dahulukan  sunnah  (rawatib)  dari  sholat  yang  wajib  (shubuh)  karena rawatibnya  sholat  shubuh  adalah  sebelum  mengerjakan  sholat  shubuh, sekalipun orang-orang yang sholat telah keluar dan sekalipun telah keluar dari waktunya.

 

Soal 16 :

Jika orang-orang menunaikan sholat ‘Idul Fitri di tempat sholat shubuh maka apakah makan beberapa butir kurma sebelum sholat shubuh atau lebih utama pulang  kepada  keluarganya  kemudian  membuat  langkah  baru  untuk menunaikan sholat ‘ied ?

Jawab :

Jika  tidak  mungkin  untuk  pulang,  kita  katakan  :  Jangan  keluar  dari  rumah sampai makan dahulu karena keluarmu dari rumah dengan menunaikan sholat shubuh dan sholat ‘ied.

 

Soal 17 :

Jika  seorang  muadzin  lupa  mengucapkan  “Ash-Sholâtu  Khairun  Minan  Naum” apa yang mesti dia lakukan ?

 

Jawab :

Jika  seorang  muadzin  lupa  mengucapkan  “Ash-Sholâtu  Khairun  Minan  Naum” maka yang dikenal oleh para ulama bahwa adzannya sah, karena ucapan “Ash-Sholâtu  Khairun  Minan  Naum”  dalam  adzan  shubuh  itu  hukumnya  sunnah bukan  wajib  dengan  dalil  bahwa   Abdullah  bin  Zaid  radhiyallâhu  ‘anhu  ketika melihat adzan dalam tidurnya, beliau melihatnya dan tidak ada lafadz ini maka ucapan  ini  adalah  tidak  wajib  dan  jika  dikumandangkan  oleh  seseorang  dalam adzan shubuh setelah masuk waktu shubuh maka itu lebih utama dan jika tidak melafadzkannya maka tidak mengapa.

 

Soal 18 :

Sesorang  ketinggalan  satu  raka’at  dari  sholat  shubuh,  apakah  dia menyempurnakan dengan jahr (bacaan keras) atau sirr (bacaan pelan) ?

Jawab  :

Dia  boleh  memilih,  namun  lebih  utama  untuk  menyempurnakannya dengan sirr karena barangkali ada orang lain yang menunaikannya maka akan mengganggunya jika dikeraskan bacaannya.

 

Soal 19 :

Saya duduk (di dalam masjid,-pent) sampai terbit matahari dan belum mengerjakan  sholat  sunnah  sebelum  shubuh,  apakah  cukup  dengan mengerjakan  sholat  sunnah  Isyraq  tanpa  mengerjakan  sholat  sunnah  sebelum shubuh ?

Jawab :

Apakah kita katakan sampai Isyraq atau sampai Syuruq? Syuruq adalah terbitnya  matahari  sebelum  naik  sampai  sepenggalah  dan  Isyraq  adalah menyebarnya cahaya matahari. Yang jelas jika kamu menunaikan sholat Isyraq maka itu belum mencukupi dari mengerjakan sholat sunnah sebelum shubuh dan jika mengerjakan sholat sunnah sebelum shubuh ini juga tidak mencukupi, karena  zhahirnya  adalah  seorang  muslim  mengerjakan  dua  raka’at  khusus untuk Isyraq dan hal ini lebih hati-hati. Maka dia mengerjakan sholat sunnah fajar kemudian sholat sunnah Isyraq.

 

Soal 20 :

Saya mendengar hadits –Wallähu A’lam- yakni, “Barang siapa yang sholat shubuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian sholat dua raka’at maka baginya seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna dan sempurna.”

Pertanyaan  :

Apakah  hadits  ini  shahih  atau  lemah?  Mudah-mudahan  Allah membalas anda dengan kebaikan.

Jawab :

Hadits ada syahidnya dalam shahih Muslim bahwa Nabi shollallâhu ‘alaihi  wasallam  jika  sholat  shubuh  beliau  duduk  di  tempat  sholatnya  sampai  terbit matahari  adalah  hasan,  namun  yang  ada  dalam  shahih  tidak  menyebutkan bahwa  Nabi  shollallâhu  ‘alaihi  wa  sallam  sholat  sesudah  itu.  Dan  hadits  yang disebutkan oleh penanya adalah tidak mengapa dan sanadnya adalah hasan.

 

Sumber: http://an-nashihah.com