Raja Zainul Muluk dari negari Syarikatan mempunyai empat orang putra. Sesudah kawin lagi dengan putri Kande Lilan baginda mendapat seorang putra lagi dan diberi nama Tajul Muluk. Menurut ahli nujum, Tajul Muluk akan menjadi seorang raja besar, tetapi baginda sendiri akan menjadi buta bila melihat anaknya itu. Sebab itulah baginda membuang Tajul Muluk yang masih bayi itu ke dalam hutan bersama ibunya Kande Lilan.


Pada suatu hari ketika Zainul Muluk sedang berburu, secara kebetulan melihat anaknya. Baginda tidak mengenal anaknya yang sudah berusia tujuh tahun itu. Pada saat itulah mata baginda buta. Tajul Muluk dituduh mencelakakan mata raja. Ia ditangkap lalu dibuang ke dalam jurang. Menurut ahli nujum obat mata baginda ialah bunga Meungkawali. Keempat putranya disuruh mencari bunga mujarab itu dan barangsiapa yang berhasil akan diangkat menjadi raja menggantikan baginda. Dalam perjalanan mencari bunga Meungkawali mereka bertemu dengan Tajul Muluk yang ternyata masih hidup meskipun sudah dibuang ke dalam jurang. Mereka tidak mengetahui bahwa Tajul Muluk adalah adik mereka sendiri.

Tajul Muluk turut serta mencari bunga obat mata ayahnya. Ketika sampai di negeri Buni Yaman keempat bersaudara itu dipenjarakan oleh Ratu Janu Hati akibat kalah main catur. Dalam permainan berikutnya Tajul Muluk dapat mengalahkan Janu Hati sehingga ia diangkat menjadi raja negeri Buni Yaman sesuai dengan taruhan yang sudah disepakati. Janu Hati menjadi permaisurinya dan keempat saudaranya dibebaskan. Tatapi Tajul Muluk bersumpah tidak akan mendekati istrinya sebelum ia menemukan obat mata ayahnya. Dengan bantuan Janu Hati akhirnya Tajul Muluk sampai di negeri Peulinggoe Pura yang diperintah oleh raja Muzafasyah yaitu ayah putri Meungkawali.

Dalam usaha mendapatkan bunga sakti itu Tajul Muluk harus kawin dengan putri Mahmuda yaitu anak ratu Hamilah yang bertanggung jawab atas bunga Meungkawali. Dengan susah payah akhirnya Tajul Muluk dapat memasuki mahligai putri Meungkawali dan memetik bunganya yang disebut bunga Meungkawali. Sesudah agak lama Tajul Muluk tinggal bersama putri Mahmuda ia teringat akan nasib ayahnya yang dalam keadaan buta itu.

Dengan menunggang seekor kuda terbang bersama Mahmuda ia menuju negeri Syarikatan. Mereka singgah di Buni Yaman. Kemudian melanjutkan perjalanan bersama keempat saudaranya. Sebelum sampai di Syarikatan bunga Meungkawali dirampas oleh Hamidasyah yaitu abang Tajul muluk yang tertua dan ia sendiri dipukul dengan batu sampai pingsan. Disangkanya Tajul Muluk sudah mati. Bersama ketiga orang adiknya Hamidasyah melanjutkan perjalanan hingga sampai di istana orang tuanya.

Baginda Zainul Muluk segera diobati dengan bunga Meungkawali sampai sembuh. Dengan bantuan ratu Hamilah Tajul Muluk sembuh kembali dan dipertemukan dengan kedua isterinya. Ia diterbangkan ke Syarikatan. Di suatu tempat agak jauh dari istana ayahnya, ia tinggal di sebuah istana yang dibangun oleh Dewi Hamilah. Dalam waktu singkat banyak penduduk datang bermukim di sekitar istana Tajul Muluk. Adapun putri Meungkawali tatkala terbangun dari tidurnya heran melihat bunganya sudah hilang berikut cincinnya. Ia pergi mencarinya. Di negeri Syarikatan, Meungkawali menyamar sebagai penjaga kuda raja.

Pada suatu hari raja Zainul Muluk berkunjung ke istana Tajul Muluk bersama keempat orang putranya. Ikut pula penjaga kudanya, Meungkawali. Dalam pertemuan itulah, atas keterangan Janu Hati berbuka rahasia bahwa sebenarnya yang menemukan bunga Meungkawali adalah Tajul Muluk. Dalam kesempatan itu pula Meungkawali bertemu dengan Tajul Muluk dan jatuh hati kepadanya. Tajul Mulukpun kagum melihat kecantikan Meungkawali. Tetapi Meungkawali segera terbang ke negerinya. Di sana ia memarahi Dewi Hamilah yang telah membantu Tajul Muluk memetik bunganya. Hamilah mengatakan bahwa ia sengaja memberi jalan kepada Tajul Muluk supaya ia jatuh cinta kepadanya.

Dengan alasan itu Meungkawali tidak marah lagi. Secara menyamar Tajul Muluk terbang ke istana Meungkawali. Siang ia berupa seekor burung dan malam hari menjelma sebagai manusia. Lama kelamaan hal itu diketahui oleh ibu Meungkawali yang tidak senang melihat anaknya bergaul dengan manusia. Meungkawali di penjarakan, dan Tajul Muluk dilempar ke udara dan jatuh di laut. Berkat sebuah azimat, Tajul Muluk sampai di sebuah kolam dan secara kebetulan bertemu dengan adik sepupu Meungkawali bernama Ruhul Afda yang menjadi tawanan Jin Hitam. Ia dapat membebaskan Ruhul Afda. Putri ini berjanji akan mengembalikan Meungkawali kepada Tajul Muluk. Dalam suatu adu sakti dengan Tajul Muluk raja Jin Hitam tewas.

Mengetahui adik sepupunya sudah bebas Meungkawali bermohon kepada orang tuanya supaya ia dibebaskan, dengan janji tidak akan berhubungan lagi dengan manusia. Ruhul Afda menceritakan kepada Meungkawali bahwa ia ditolong oleh seorang pemuda bangsa manusia dari negeri Syarikatan. Adapun Tajul Muluk sudah bertekad akan melawan ayah Meungkawali jika ia tetap melarang putrinya berhubungan dengannya. Akhirnya atas desakan Ruhul Afda, raja Muzafasyah menikahkan Meungkawali dengan Tajul Muluk, dan tiada berapa lama kemudian ia diangkat menjadi raja Peulinggoe Pura menggantikan raja Muzafasyah yang sudah lanjut usia.

Tajul Muluk memerintah negeri dengan adil sehingga namanya dikenal di seantero negeri dan Peulinggoe Pura berada dalam keadaan aman dan makmur.